Friday, April 19, 2019

Review: Bloodstained: Ritual Of The Night (Ps4)


Bloodstained: Ritual of the Night merupakan game yang sudah aku tunggu-tunggu semenjak awal mulai kick starter di tahun 2015. Awalnya Koji Igarashi yang merupakan produser seri Castlevania, memulai menggalang dana melalui website kickstarter.com, yang mana pada saat itu mendapatkan animo yang luar biasa dari para gamer yang rindu akan game plat former ala-ala Castlevania: Symphony of the Night (PS1-1997). Awalnya goal penggal-angan dana cuma $500.000 saja alias sekitar 7 Milyar rupiah, namun tidak di sangka-sangka dana terakhir yang terkumpul ialah 77 Milyar Rupiah atau $5.545.991, ini menciptakan ekspektasi kita menjadi sangat - sangat tinggi untuk game ini. Castlevania: Symphony of the Night merupakan sebuah game yang sangat memorable bagi saya, alasannya game tersebut sangat manis sekali dari semua aspek nya. Di masa kecil saya cukup mengikuti game Castlevania klasik, mulai dari Castlevania I (1986 - Nintendo), Castlevania II - Simon Quest (1987 - Nintendo),  Harmony of Dissonance (GBA), Aria of Sorrow (GBA), Dawn of Sorrow (DS), dll sampai Castlevania kala modern Seperti Castlevania: Lords of Shadow I (PS3) dan Castlevania: Lords of Shadow II (2014-PS3).




Makara mampu di bilang pengetahuan dan experience aku tentang game ini cukup dalam, Seri terakhir Koji Igarashi ada di Castlevania: Harmony of Despair (2010 - PS3) dan setelah itu seri Castlevania kualitasnya menurun dari segi gameplay, Lords of Shadow I dan II menurut saya malah keluar jauh dari seri CastlevaniaCastlevania: Lords of Shadow I bahu-membahu di produseri oleh Hideo Kojima, namun alasannya adalah akar inti dari game ini ada pada Koji Igarashi jadi seri Castlevania modern sama sekali tidak sukses. Koji Igarashi kemudian keluar dari Konami di tahun 2014. Castlevania series bergotong-royong merupakan salah satu dari franchise favorit dari Konami, sejajar dengann seri Metal Gear karena kedua game ini di mulai semenjak periode Nintendo Entertainment System (NES).
Bloodstained: Ritual of the Night mengambil setting pada masa ke 18 abad revolusi industri di Inggris. Dalam game ini kita akan memainkan tokoh protagonist bernama  Miriam, yakni seorang gadis yang selamat dari proses Shardbinder, ialah sebuah proses memanggil an iblis oleh para Alchemy dan menciptakan sebuah kristal bermuatan kekuatan iblis yang bisa di gunakan oleh insan. Kekuatan kristal ini beragam, dan di kategori kan menjadi 6 kategori utama, mirip skill, familiar, passive skill dll.
Gameplay dari game ini tentunya mengusung model Metroidvania-style yang cukup terkenal. Di awal game kita bahwasanya sudah bisa menjelajahi semua arena dar castle namun pada titik-titik tertentu kita membutuhkan kemampuan khusus untuk bisa ke arena tersebut, biasanya kemampuan khusus ini kita dapatkan sehabis kita membunuh boss tertentu. Ini lah sebenarnya ke seruan dari game model Metroidvania, dimana dikala kita mendapatkan kemampuan khusus gres misal lompat ganda (double jump), makan kita akan back track kembali ke awal game, dan mendatangi arena-arena yang sudah kita lewati namun tidak bisa kita datangi alasannya adalah kita belum mempunyai kemampuan untuk melaksanakan lompatan ganda, dikala kita berada di arena gres yang hanya mampu di terusan menggunakan doble jump ini, di sana kita akan di berikan hadiah berupa item unik, senjata, equipment atau nyawa pelengkap. Sehingga hal ini yang menciptakan kita serasa berputar-putar aja keliling-keliling castle.

Grafis yang di gunakan yah cukup tidak mengecewakan, Karakter utama sudah menggunakan full 3D dengan Unreal Engine, Arena sudah menggunakan pencahayaan yang manis, variasi arena yang bermacam-macam, dan ada beberapa arena yang terasa unik, mirip kamera berputar mengelilingi tower dan di ujung paling atas tower ada boss yang menanti. Untuk pergerakan karakter utama aku merasa animasi yang terlihat masih kaku, cara lompat, pergantian senjata dan skill tidak flawless. Impact saat kita menyerang musuh dan kena serangan terasa dingin tidak bertenaga, musuh yang mati pun terlihat tidak memuaskan. Sound effect serangan kita pun kurang sip. Terlalu banyak komponen-komponen yang harus kita rubah-rubah bila ingin melawan musuh tertentu secara efektif, sampai dari game ini menyediakan fitur shortcut gonta ganti equipment, senjata yang aku tidak gunakan sama sekali.
Lanjut ke kesimpulan pandangan keseluruhan saya mengenai game Bloodstained: Ritual of the Night, Jujur dikala awal release pertama-tama saya sudah tidak sabar untuk mampu memainkan game ini, dan risikonya membeli game nya dengan harga full price, dengan cita-cita bisa kembali mencicipi sensasi dikala memainkan game Castlevania: Symphony of the Night. Namun aku di kecewakan lagi, perasaan bercampur aduk, jujur jika mau di bilang ini game cukup sukses dan mampu di bilang game yang anggun, namun menurut saya eksklusif game ini merupakan sebuah game yang bukan game stand aloneBloodstained: Ritual of the Night berusaha sangat keras untuk menyamai Symphony of the Night, segala macam aspek di Symphony of the Night di tiru di Bloodstained, dikala saya mainkan serasa tidak ada hal yang gres, dan berdasarkan saya alasannya adalah game ini di danai oleh fans jadi terkesan game ini hanya di buat untuk membahagiakan para fans dan tidak memiliki akar yang besar lengan berkuasa sebagai sebuah game stand alone.
Banyaknya adegan yang cukup familiar di ingatan saya, Seperti air terjun besar di dalam gua, arena perpustakaan, terus adegan iconic ketika Mariam menyundul dingklik pemilik perpustakaan, semua hal yang sudah saya pernah lihat di seri Symphony of the Night dan menurut saya tidak perlu di tiru lagi, boleh lah sekali-sekali menampilkan hal yang sama, untuk nostalgia, namun kalau banyak yang sama mampu di bilang game ini cuma mau main kondusif aja. Persenjataan dan item yang terlalu banyak dan banyak senjata yang menjiplak seri Symphony of the Night ini juga membuat aku muak, variasi senjata yang terlalu banyak, namun sepanjang game saya cuma menggunakan 3-5 senjata aja, sisanya banyak senjata yang di ulang-ulang animasi nya. Kepala medusa yang melayang-layang di Clock Tower dan masih banyak adegan yang hampir sama persis lainnya di game ini.
Memang ada beberapa aspek baru, mirip konsep kristal, ketika kita membunuh musuh berkali-kali maka musuh tersebut akan mengeluarkan sebuah kristal, nah kristal ini berisi kekuatan dari monster yang kita bunuh, atau mampu juga kita melakukan summon memanggil monster tersebut untuk membantu kita dalam petualangan ini. Saya sudah mengumpulkan semua kristal 100% dan sama mirip perkara senjata dari banyaknya kristal sepanjang game paling aku hanya menggunakan 10 an jenis kristal saja. Hal gres lainnya yakni kita bisa melakukan trans mutasi alchemy, mengumpulkan item-item yang di jatuhkan oleh musuh dan dari item tersebut bisa kita jadikan senjata atau makanan. Makanan di sini jikalau kita makan pertama kali akan menaikkan status aksara kita secara permanen.
Musik dari game ini aku rasa juga tidak memorable, tokoh utama yang tidak mempunyai abjad yang kuat serta tokoh pendukung yang saya rasa tidak penting. Adanya side mission yang menurut aku tidak menarik, dengan hadiah yang tidak menarik juga, sehingga rasa-rasanya males menuntaskan nya, karena kita sudah mempunyai item yang lebih manis drop dari musuh berpengaruh. Jenis musuh yang repetitive dan ada satu arena yang musuhnya di buat sangat besar ukurannya, yang menurut saya ini konten hopeless yang tidak perlu di tambahkan ke dalam game. Voice pemeran nya juga 'B' aja, aku jadi teringat dengan Voice pemeran nya, Symphony of the Night tokoh Alucard (kata "Dracula" yang di balik) saat mengeluarkan skill namanya "Soul Steal" behh suaranya menggema, suara tokohnya terdengar berwibawa.
Mungkin yang menciptakan saya kecewa yaitu, ekspektasi aku yang terlalu tinggi, berharap game ini akan melebihi level standard game Symphony of the Night, atau malah melebihi Symphony of the Night, namun kembali lagi game ini merupakan game untuk para fans nya, sampai-hingga foto dari para fans yang menyumbang dalam jumlah besar di jadikan musuh dalam bentuk lukisan, tidak salah juga sih sebetulnya, cuma berdasarkan aku itu MAKKSAAKoji Igarashi tidak mampu membuat game dengan maksimal karena ia tidak memiliki sumber daya insan atau team mirip team nya di Konami, mungkin bagi sahabat-sahabat yang belum memainkan Castlevania: Symphony of the Night akan sangat enjoy saat memainkan game ini. Saya sudah di racuni oleh sebuah maha karya yang mungkin tidak akan terulang lagi. Namun tidak bisa di pungkiri juga Bloodstained: Ritual of the Night merupakan sebuah game paling sukses yang pernah ada di Kickstarter.

Score dari saya : 6/10

Di mainkan di PS4 Pro, HDR Off, 4K

Semoga review aku bisa bermanfaat 
Terimakasih


No comments:

Post a Comment